Sholat Jum'ah dan Khutbah

Assalamu'alaikum Warahmatullaahi Wabaraakatuh,

Bismillaahirrahmaanirraahiim.

materipelajaranaswaja.com- Shalat Jum'at itu hukumnya fardlu 'ain bagi tiap-tiap muslim. mukallaf, laki-laki, sehat dan bermukim."Shalat Jum'ah merupakan sebuah ibadah wajib bagi muslim laki-laki. Maka siapa yang merasa pejantan tangguh, ayuuuuk kita laksanakan shalat Jum'ah dengan tertib dan disiplin.

www.materipelajaranaswaja.com

Seperti ibadah-ibadah lainnya, shalat Jumat memiliki beberapa ketentuan atau syarat keabsahan yang harus dipenuhi. Sekiranya tidak terpenuhi, maka shalat Jumat dihukumi tidak sah. 
Berikut ini adalah syarat-syarat sah pelaksanaan shalat Jumat: 
Pertama, shalat Jumat dan kedua kutbahnya dilakukan di waktu zhuhur. Hal ini berdasarkan hadits:
 أَنَّ النَّبِيَّكَانَ يُصَلِّي الْجُمُعَةَ حِيْنَ تَمِيْلُ الشَّمْسُ 
“Sesungguhnya Nabi Saw melakukan shalat Jumat saat matahari condong ke barat (waktu zhuhur)”. (HR.al-Bukhari dari sahabat Anas). Maka tidak sah melakukan shalat Jumat atau khutbahnya di luar waktu zhuhur. Bila waktu Ashar telah tiba dan jamaah belum bertakbiratul ihram, maka mereka wajib bertakbiratul ihram dengan niat zhuhur. Apabila di tengah-tengah melakukan shalat Jumat, waktu zhuhur habis, maka wajib menyempurnakan Jumat menjadi zhuhur tanpa perlu memperbaharui niat. Syekh Habib Muhammad bin Ahmad al-Syathiri mengatakan:
 فَلَوْضَاقَ الْوَقْتُ أَحْرَمُوْا بِالظُّهْرِ وَلَوْ خَرَجَ الْوَقْتُ وَهُمْ فِيْهَا أَتَمُّوْا ظُهْراً وُجُوْباً بِلَا تَجْدِيْدِ نِيَّةٍ 
“Apabila waktu zhuhur menyempit, maka wajib melakukan takbiratul ihram dengan niat zhuhur. Apabila waktu zhuhur keluar sementara jamaah berada di dalam ritual shalat Jumat, maka mereka wajib menyempurnakannya menjadi shalat zhuhur tanpa mengulangi niat”. (Syekh Habib Muhammad bin Ahmad al-Syathiri, Syarh al-Yaqut al-Nafis, hal.236) 
Kedua, dilaksanakan di area pemukiman warga. Shalat Jumat wajib dilakukan di tempat pemukiman warga, sekiranya tidak diperbolehkan melakukan rukhsah shalat jama’ qashar di dalamnya bagi musafir. Tempat pelaksanaan Jumat tidak disyaratkan berupa bangunan, atau masjid. Boleh dilakukan di lapangan dengan catatan masih dalam batas pemukiman warga. Syekh Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al-Ghazali mengatakan:
 وَلَا يُشْتَرَطُ أَنْ يُعْقَدَ الْجُمُعَةُ فِي رُكْنٍ أَوْ مَسْجِدٍ بَلْ يَجُوْزُ فِي الصَّحْرَاءِ إِذَا كاَنَ مَعْدُوْداً مِنْ خِطَّةِ الْبَلَدِ فَإِنْ بَعُدَ عَنِ الْبَلَدِ بِحَيْثُ يَتَرَخَّصُ الْمُسَافِرُ إِذَا انْتَهَى إِلَيْهِ لَمْ تَنْعَقِدْ اَلْجُمُعَةُفِيْهَا 
“Jumat tidak disyaratkan dilakukan di surau atau masjid, bahkan boleh di tanah lapang apabila masih tergolong bagian daerah pemukiman warga. Bila jauh dari daerah pemukiman warga, sekira musafir dapat mengambil rukhshah di tempat tersebut, maka Jumat tidak sah dilaksanakan di tempat tersebut”. (al-Ghazali, al-Wasith, juz.2, hal.263, [Kairo: Dar al-Salam], cetakan ketiga tahun 2012). (Baca juga: Shalat Jumat di Perkantoran) 
Ketiga, rakaat pertama Jumat harus dilasanakan secaraberjamaah. Minimal pelaksanaan jamaah shalat Jumat adalah dalam rakaat pertama, sehingga apabila dalam rakaat kedua jamaah Jumat niat mufaraqah (berpisah dari Imam) dan menyempurnakan Jumatnya sendiri-sendiri, maka shalat Jumat dinyatakan sah. 
Keempat, jamaah shalat Jumat adalah orang-orang yang wajib menjalankan Jumat. Jamaah Jumat yang mengesahkan Jumat adalah penduduk yang bermukim di daerah tempat pelaksanaan Jumat. Sementara jumlah standart jamaah Jumat adalah 40 orang menghitung Imam menurut pendapat kuat dalam madzhab Syafi’i. Menurut pendapat lain cukup dilakukan 12 orang, versi lain ada yang mencukupkan 4 orang. Al-Jamal al-Habsyi sebagaimana dikutip Syekh Abu Bakr bin Syatha mengatakan:
 قَالَ الْجَمَلُ الْحَبْشِيُّ فَاِذَا عَلِمَ الْعَامِيُّ أَنْ يُقَلِّدَ بِقَلْبِهِ مَنْ يَقُوْلُ مِنْ أَصْحَابِ الشَّافِعِيِّ بِإِقَامَتِهَا بِأَرْبَعَةٍ أَوْ بِاثْنَيْ عَشَرَ فَلَا بَأْسَ بِذَلِكَ إِذْ لَا عُسْرَ فِيْهِ 
“Berkata Syekh al-Jamal al-Habsyi; Bila orang awam mengetahui di dalam hatinya bertaklid kepada ulama dari ashab Syafi’i yang mencukupkan pelaksanaan Jumat dengan 4 atau 12 orang, maka hal tersebut tidak masalah, karena tidak ada kesulitan dalam hal tersebut”. (Syekh Abu Bakr bin Syatha, Jam’u al-Risalatain, hal.18). Tidak termasuk jamaah yang mengesahkan Jumat yaitu orang yang tidak bermukim di daerah pelaksanaan Jumat, musafir dan perempuan, meskipun mereka sah melakukan Jumat. 
Kelima, tidak didahului atau berbarengan dengan Jumat lain dalam satu desa Dalam satu daerah, shalat Jumat hanya boleh dilakukan satu kali. Oleh karenanya, bila terdapat dua Jumatan dalam satu desa, maka yang sah adalah Jumatan yang pertama kali melakukan takbiratul ihram, sedangkan Jumatan kedua tidak sah. Dan apabila takbiratul ihramnya bersamaan, maka kedua Jumatan tersebut tidak sah. Hal ini bila tidak ada kebutuhan yang menuntut untuk dilaksanakan dua kali. Bila terdapat hajat, seperti kedua tempat pelaksanaan terlampau jauh, sulitnya mengumpulkan jamaah Jumat dalam satu tempat karena kapasitas tempat tidak memadai, ketegangan antar kelompok dan lain sebagainya, maka kedua Jumatan tersebut sah, baik yang pertama maupun yang terakhir. Syekh Abu Bakr bin Syatha’ mengatakan:
 وَالْحَاصِلُ أَنَّ عُسْرَ اجْتِمَاعِهِمْ اَلْمُجَوِّزَ لِلتَّعَدُّدِ إِمَّا لِضَيْقِ الْمَكَانِ اَوْ لِقِتَالٍ بَيْنَهُمْ اَوْ لِبُعْدِ أَطْرَافِ الْمَحَلِّ بِالشَّرْطِ 
“Kesimpulannya, sulitnya mengumpulkan jamaah Jumat yang memperbolehkan berbilangannya pelaksanaan Jumat adakalanya karena faktor sempitnya tempat, pertikaian di antara penduduk daerah atau jauhnya tempat sesuai dengan syaratnya”. (Syekh Abu Bakr bin Syatha, Jam’u al-Risalatain, hal.4). (Baca: Dua Shalat Jumat dalam Satu Komplek) 
Keenam, didahului kedua khutbah. Sebelum shalat Jumat dilakukan, terlebih dahulu harus dilaksanakan dua khutbah. Hal ini berdasarkan hadits Nabi:
 أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَخْطُبُ قَائِمًا ثُمَّ يَجْلِسُ ثُمَّ يَقُومُ فَيَخْطُبُ قَائِمًا 
“Rasulullah Saw berkhutbah dengan berdiri kemudian duduk, kemudian berdiri lagi melanjutkan khutbahnya”. (HR. Muslim).

SYARAT-SYARAT SAHNYA JUM'AT

Syarat-syarat sahnya melakukan shalat Jum'at ada tiga :

1. shalat Jumat dan kedua kutbahnya dilakukan di waktu zhuhur

2. dilaksanakan di area pemukiman warga

3. rakaat pertama Jumat harus dilasanakan secaraberjamaah

4. jamaah shalat Jumat adalah orang-orang yang wajib menjalankan Jumat

5. tidak didahului atau berbarengan dengan Jumat lain dalam satu desa

6. didahului kedua khutbah


Berikut beberapa dalil tentang jumlah jama’ah sholat Jum’at:

1. Imam Abu Hanifali (Imam Hanafi) menyatakan cukup empat orang termasuk imam. Pendapat ini dengan alasan satu hadis sbb. :

Artinya :

"Jum'ah itu wajib bagi tiap-tiap desa yang ada padanya seorang imam, walaupun penduduknya hanya ada 4 orang". ( H.R. Thabrani)

2. Imam Aw-Za'i menyatakan jurn'ah itu cukup dengan 12 orang. Pendapat ini dengan alasan hadis sbb. :

"Orang yang pertama kali datang ke Madinah dari kaum Muhajirin ialah Mush'ab bin 'Umair, dan dialah orang yang pertama mendirikan Jum'at disitu pada hari Jum'at, sebelum Nabi Muhammad saw datang (dan waktu itu) mereka dua belas orang". ( H R Thabrani)

3. Imam Syafi’i menyatakan Jum'ah itu harus 40 orang hadir, dengan alasan hadis sbb. :

Telah berkata Abdurrahman bin Ka’b : "Bapak saya ketika mendengar adzan hari Jum'at biasa mendo'akan bagi As'ad bin Zararah. Maka saya bertanya kepadanya: Apabila mendengar adzan mengapa ayah mendo'akan untuk As'ad bin Zararah ? Menjawab ayahnya: Karena dialah orang yang pertama kali mengumpulkan

kita untuk shalat Jum'at didesa Hazmin Nabit. Maka bertanya saya kepadanya : Berapakah waktu orang hadir ? Ia menjawab : "Empat puluh orang laki-laki".

( H.f. Abu Dawud )

 

RUKUN KHUTHBAH

1. Membaca "Alhamdulilah" dalam dua khuthbah itu.

2. Membaca shalawat atas Nabi Muhammad saw dalam dua khuthbah.

3. Berwasiat dengan "taqwa" kepada Allah dalam dua khuthbah.

4. Membaca ayat Al—Qur'an dalam salah satu khuthbah.

5. Memohonkan maghfirah (ampunan) bagi sekalian mukminin pada khuthbah yang kedua.

 

SYARAT SYARAT KHUTHBAH

1. Isi rukun khuthbah dapat didengar oleh 40 orang ahli Jum'ah.

2. Berturut-turut antara khuthbah pertama dengan khuthbah kedua.

3. Menutup auratnya.

4. Badan, pakaian dan tempatnya suci dari hadas dan najis,

 

SUNAT-SUNAT JUM'AH

Bagi orang yang menghadiri shalat Jum'at disunatkan untuk :

1. Mandi dan membersihkan tubuh.

2. Memakai pakaian putih.

3; Memotong kuku.

4. Memakai wangi-wangian.

5. Memperbanyak membaca ayat-ayat Al-Qur'an, do'a dan dzikir.

6. Tenang waktu khathib membaca khuthbah.

Niat Shalat Jum'at


"USHALLII FARDLAL JUM'ATI RAK.'ATAINI MUSTAQBILAL QIBLATI ADAA-AN (MA'MUUMAN / IMAAMAN ) LILLAAHI TA'AALAA" ALLAHU AKBAR.

Artinya :

"Saya menyengaja shalat fardlu Jum'at dua raka'at menghadap qiblat (ma'muman/imaman) karena Allah". Allahu Akbar.

Sebagai evaluasi, silahkan kerjakan soal berikut ini:


Soalan Sholat Jum'ah dan khutbah


Wallaahu a'lam bish-showab

Wassalaamu'alaikum Warahmatullaahi Wabaraakatuh


Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Sholat Jum'ah dan Khutbah"

Posting Komentar

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Latest Posts

Cari Blog Ini

Ads 970x90

Paling Dilihat